EPISTIMOLOGI (Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar) - Informasi Sarjana EPISTIMOLOGI (Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar) - Informasi Sarjana -->

Postingan Terbaru

EPISTIMOLOGI (Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar)

Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Beberapa permasalahan yang dibahasa adalah a. Apa itu Pengetahuan ? b. Bagaimana cara menggunakan metode ilmiah ? c. Bagaimana Struktur pengetahuan ilmiah ?

Definisi Epistimologi

Epistemologi Istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?; 3). Bagaimanakah validitas pengetahuan apriori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan aposteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2003, hal.32).
Epistemologi juga disebut logika yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika dibagi menjadi dua logika minor dan logika mayor. Logika minor memepelajari struktur berfikir dan dalil-dalilnya seperti silogisme. Sedangkan logika mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran dan kepastian yang sama dengan ruang lingkup epistemologi. Epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu disiplin yang disebut Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar.
Batasan-batasan diatas nampak jelas hal yang ingin diselesaikan epistemologi adalah bagaimana cara mendapatkan pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan dan kebenaran pengetahuan.


Jenis-jenis Epistemologi 

Epistemologi dapat dibedakan berdasarkan :

1. Metode Pendekatan 

a. Epistimologi metafisis
Merupakan epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengandaian metafisika tertentu. Epistemologi macam ini berangkat dari suatu paham tertentu tentang kenyataan, lalu membahas tentang bagaimana manusia mengetahui kenyataan itu. Kelemahannya adalah
(a) epistimolog secara tidak kritis begitu saja mengandaikan bahwa kita dapat mengetahui kenyataan yang ada , dialami dan dipikirkan,
(b) hanya menyibukkan diri dengan uraian tentang seperti apa pengetahuan macam itu dan bagaimana diperoleh,
(c) metafisika atau pandangan dasar tentang kenyataan secara menyeluruh yang diandaikan oleh epistimolog metafisis sebagai titik tolak, merupakan pengetahuan yang kontroversial

b. Epistimologi skeptis
Jenis epistemologi yang mempunyai pendekatan dengan membuktikan terlebih dahulu apa yang kita ketahui sebagai sesuatu yang sungguh nyata atau benar-benar tidak dapat diragukan lagi dengan menganggap tidak nyata segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan. Kelemahannhya, bersifat skeptis
c. Epistimologi kritis
Epistemologi ini berangkat dari asumsi, prosedur dan kesimpulan pemikiran akal sehat atau kesimpulan pemikiran ilmiah sebagaimana kita temukan dalam kehidupan, lalu dicoba untuk ditanggapi secara kritis akan asumsi, prosedur dan kesimpulan tersebut.

2. Objek yang dikaji 

a. Epistemologi individual
Epistemologi ini mengkaji struktur pemikiran (status kognitif, proses pemerolehan) manusia sebagai individu yang bekerja dalam proses mengetahui
b. Epistemologi sosial
Merupakan kajian filosofis terhadap pengetahuan sebagai data sosiologis. Hubungan sosial, kepentingan sosial dan lembaga sosial merupakan faktor yang menentukan dalam proses, cara, maupun pemerolehan pengetahuan.
 Jarum sejarah pengetahuan Pada awalnya, berbagai pengetahuan tidak memiliki pembedaan yang jelas. Pengetahuan hanya didasarkan pada kriteria kesamaan sebagai konsep dasarnya, bukan pembedaan atau diferensiasi antara pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Semuanya menyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengambang (Jujun S. 2007:101). Konsep ini baru mengalami perkembangan pada Abad Penalaran (The Age of Reason, pertengahan abad 17). Yang konsekuensinya mengubah pengetahuan dengan konsep dasar kesamaan menjadi pembedaan, dan kemudian melahirkan berbagai spesialisasi pekerjaan yang merubah struktur kemasyarakatan.
Pengetahuan mulai dibedakan paling tidak berdasarkan:
(a) apa yang diketahui,
(b) bagaimana cara mengetahui, dan
(c) untuk apa pengetahuan itu digunakan.

c. Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan hasil pengalaman seseorang tentang sesuatu. Dalam tindakan mengetahui selalu kita temukan dua unsur utama yaitu subyek yang mengetahui dan obyek atau sesuatu yang diketahui. Ahmad tafsir dalam Filsafat Ilmu (2007:5) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. Sementara Jujun S dalam Filsafat Ilmu: sebuah pengantar populer (2007:104) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
 Cara memperoleh pengetahuan/terjadinya pengetahuan Menurut John Hospers yang dikutip oleh Surajino, mengatakan bahwa ada enam hal penting sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan. Enam hal itu antara lain :
1. Pengalaman Inderawi ( Sense experience ) : sarana paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Melalui indera-indera kita dapat berhubungan dengan berbagai macam obyek di luar diri kita. Kesalahan bisa terjadi kalau tidak ada ketidakharmonisan dalam semua peralatan indera itu.
2. Penalaran ( reasoning ). Penalaran merupakan karya akal yang menggabungkan dua pemikiran atau lebih untuk memperoleh pengetahuan baru.
3. Otoritas ( authority ) : kewibawaan atau kekuasaan yang sah yang dimiliki seseorang dan diakui oleh kelompoknya. Ia dilihat sebagai salah satu sumber pengetahuan karena kelompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang memiliki kewibawaan dalam pengetahuannya.
4. Intuisi ( Intution ) : Pengetahuan intuisi tidak dapat dibuktikan seketika atau lewat kenyataan karena tidak ada pengetahuan yang mendahuluinya.
5. Wahyu ( Revelation ) : Pengetahuan yang diperoleh dari yang Ilahi lewat para nabi dan utusan-Nya demi kepentingan umat-Nya. Dasar pengetahuan adalah kepercayaan akan sesuatu yang disampaikan oleh sumber wahyu itu sendiri. Dari kepercayaan ini muncul keyakinan.
6. Keyakinan ( faith ) : Keyakinan mendasarkan diri pada dogma-dogma atau ajaran-ajaran agama yang diungkapkan lewat norma-norma dan aturan-aturan agama.
Akal sehat dan cara coba-coba mempunyai peranan penting bagi manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam. Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan.
Karakteristik akal sehat diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Karena Landasannya yang berdasar pada adat dan tradisi maka akal sehat cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan.
2. Karena landasannya yang berakar kurang kuat maka maka akal sehat cenderung bersifat kabur dan samar-samar.
3. Kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi yang tidak di kaji lebih lanjut. Dengan demikian amat masuk akal jika setelah beberapa kali mengalami terbit dan terbenamnya matahari untuk menyimpulkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.

Asal usul memperoleh pengetahuan antara lain :
1. Rasionalisme Rasionalisme adalah aliran berpikir yang berpendapat bahwa pengetahuan yang benar mengandalkan akal yang menjadi dasar pengetahuan ilmiah. Salah satu tokoh adalah Leibniz.
2. Empirisme. Sumber pengetahuan satu-satunya adalah pengalaman dan pengamatan inderawi. Data dan fakta yang ditangkap oleh panca indera kita adalah sumber pengetahuan. Salah satu tokohnya adalah John Locke.
3. Kritisme Untuk bisa menangkap sesuatu sudah di andaikan bahwa kita memiliki konsep atau pemahaman tertentu,juga tidak benar bahwa sejak kelahiran seorang manusia sudah memiliki pengetahuandalam benaknya. Ia justru tahu tentang bena lewat pengalaman dan pengajaran dari orang lain. Salah satu tokohnya adalah Kant
4. Postivisme Positivisme selalu berpangkal pada apa yang telah diketahui, yang factual dan positif. Semua yang diketahui secara positif adalah semua gejala atau sesuatu yang tampak, karena itu mereka menolak metafisika. Yang paling penting adalah pengetahuan tentang kenyataan dan menyelidiki hubungan-hubungan antar kenyataan untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi dikemudian hari, dan bukannya mempelajari hakikat atau makna dari semua kenyataan itu.
Kebenaran pengetahuan Menurut ahli epostemologi dan filsafat, pada umumnya untuk membuktikan bahwa pengetahuan bernilai benar, seseorang menganalisis terlebih dahulu cara, sikap dan sarana yang digunakan untuk membangun suatu pengetahuan. Ada beberapa yang menjelaskan tentang kebenaran (Surajino, 2005) antara sebagai berikut :
1. The correspondence theory of truth (teori kebenaran saling berkesinambungan). Berdasarkan teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan bahwa kebenaran itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa sungguh merupakan halnya atau faktanya.
2. The semantic theory of truth (teori kebenaran berdasarkan arti). Berdasarkan teori kebenaran sematiknya Bertrand Russell, bahwa kebenaran itu ditinjau dari arti segi atau maknanya.
3. The consistence theory of truth (teori kebenaran berdasarkan konsisten). Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar
4. The pragmatic theory of truth (teori kebenaran berdasarkan pragmatik). Yang dimaksud dengan teori ini ialah benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedahnya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya.
5. The coherence theory of truth (teori kebenaran berdasarkan koheren). Berdasarkan teori koherennya kattsoff (1986) dalam bukunya element of philosopy, bahwa suatu prosisis itu benar, apabila berhubungan dengan ide-ide dari proposisi terdahulu yang telah dan benar.
6. The logical superfluity of truth (teori kebenaran logis yang berlebihan). Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Ayer, bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan bersifat pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat yang sama yang sama-sama saling melingkupi.
7. Teori skeptivisme, suatu kebenaran dicari ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap
8. Teori kebenaran nondeskripsi. Teori yang dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme, yang menyatakan bahwa suatu stetment atau pernyataan mempunyai nilai benar amat tergantung peran dan fungsi daripada pernyataan itu.

Kebenaran dapat dibuktikan secara :
 1. Radikal (individu)
 2. rasional (objektif)
 3. sistematik (ilmiah)
 4. semesta (universal)

Sedangkan nilai kebenaran itu bertingkat-tingkat, sebagaimana yang diuraikan oleh Anshari ada empat tingkatan kebenaran:
1. Kebenaran wahyu
2. Kebenaran spekulatif filsafat
3. Kebenaran positif ilmu pengetahuan
4. Kebenaran pengetahuan biasa.

Jenis-jenis Pengetahuan Berdasarkan cara kerja yang dipakai dalam memperoleh dan mempertanggungjawabkan kebenarannya serta berdasarkan perbedaan objek yang yang menjadi bahan kajiannya, pengetahuan dibedakan menjadi :
a. Pengetahuan ilmiah/ilmu Merupakan pengetahuan yang diperoleh dan dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah atau dengan menerapkan cara kerja ilmiah atau metode ilmiah.
b. Pengetahuan Moral Dalam pengetahuan ini, tidak ada klaim kebenaran yang absah. Penilaian dan putusan moral pada dasarnya berakar pada latar belakang budaya seseorang. Terdapat dua penilaian kebenaran dalam pengetahuan moral; - Relativisme , penerimaan kebenaran penilaian dan putusan moral yang bersifat relatif terhadap kebudayaan tempat penilaian dan putusan moral itu dibuat - Nonkognitivisme, penilian dan putusan moral tidak termasuk wacana yang mau menegaskan benar-salah , tetapi bermaksud mengungkapkan perasaan atau sikap penilai maupun pendengar terhadap kebudayaan tempat orang lahir dan dibesarkan
c. Pengetahuan Religius Pengetahuan yang kebenarannya tidak dapat ditentukan benar-salahnya baik secara apriori (pengetahuan pra pengalaman) berdasarkan penalaran logis maupun secara aposteriori (pengetahuan purna pengalaman) berdasarakan pengalaman. Kebenaran pengetahuan ini di luar lingkup pengetahuan manusia.
d. Langkah-langkah Metode Ilmiah Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah (logico-hypothetico-verifikasi) dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah, langkah-langkah tersebut adalah:
a. Perumusan masalah Pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait didalamnya
b. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis Argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin ada antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan
c. Perumusan hipotesis Jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan, materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan
d. Pengujian hipotesis Pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan ada/tidaknya hubungan antara fakta-fakta yang mendukung hipotesis.
e. Penarikan kesimpulan Penilaian apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak.
Hipotesis yang diterima dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah, karena telah memenuhi persyaratan keilmuan: (a) kerangka penjelasan yang konsisten dan (b) teruji kebenarannya(secara pragmatis).
 f. Struktur Pengetahuan Ilmiah Secara umum ilmu pengetahuan ilmiah berfungsi untuk:
1. Menjelaskan a. Deduktif Mempergunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya b. Probabilistik Penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif c. Fungsional Penjelasan yang meletakan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik /arah perkembangan tertentu d. Genetik Mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian
2. Meramalkan Meramalkan probabilitas yang akan terjadi dengan memperhatikan faktor-faktor atau data yang telah ada yang berkaitan dengan gejala yang diamati
3. Mengontrol Dengan memanfaatkan data dan fakta yang ada, pengetahuan ilmiah bisa melakukan pengontrolan terhadap gejala alam Struktur pengetahuan ilmiah terdiri dari :

1. Hukum
Hukum merupakan suatu pernyataan yang menyatakan hubungan sebab-akibat dan bentuk hubungan yang bukan sebab-akibat yang telah teruji kebenarannya. Pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitaan sebab akibat a. Sifat bersifat universal, dapat digunakan untuk meramalkan, berlaku pada kondisi terbatas (berlaku jika kondisi terpenuhi) b. Fungsi (dalam ilmu alam) - Mengungkapkan suatu kenyataan tentang hubungan antara fakta dan gejala alam - Untuk meramalkan gejala alam
2. Teori Kerlinger (1973) dalam Hedi Sutomo (2009) mengatakan bahwa teori seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi (usul) yang saling berkaitan yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis dari fenomena dengan mengungkapkan adanya hubungan yang spesifik antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena tersebut. Pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan, terdiri dari hukum-hukum a. Fungsi: - Menjelaskan - Memahamkan - Meramalkan b. Perbedaan hukum dan teori - Hukum bertolak dari suatu kenyataan, sedangkan teori dapat “melayang” di atas kenyataan dengan menggunakan logika deduksi. Teori dapat menambah keterangan yang diungkapkan hukum - Hukum merupakan suatu kenyataan, sedangkan teori menjelaskan mengapa kenyataan itu terjadi - Hukum bukan suatu penjelasan dn tidak bertujuan untuk menjelaskan, sedangkan teori bertujuan untuk menjelaskan
3. Postulat atau asumsi Adalah anggapan dasar yang sudah dianggap benar, sehingga kebenaran tersebut tidak dipertanyakan lagi. Suatu pernyataan dapat diterima sekiranya bertumpu kepada postulat , kebenarannya dapat dibuktikan
4. Prinsip atau Azas Prinsip merupakan suatu pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersifat mendasar dan berlaku umum. Prinsip melandasi kebenaran suatu hukum. Pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi. Menjelaskan pengertian efisiensi dan mengembangkan berbagai tekhnik untuk meningkatkan efisiensi Anda telah membaca EPISTIMOLOGI (Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel