ONTOLOGI (Hakikat apa yang dikaji): Metafisika, Asumsi, Peluang, Asumsi dalam Ilmu, Batas Penjelajahan Ilmu - Informasi Sarjana ONTOLOGI (Hakikat apa yang dikaji): Metafisika, Asumsi, Peluang, Asumsi dalam Ilmu, Batas Penjelajahan Ilmu - Informasi Sarjana -->

Postingan Terbaru

ONTOLOGI (Hakikat apa yang dikaji): Metafisika, Asumsi, Peluang, Asumsi dalam Ilmu, Batas Penjelajahan Ilmu

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno yang berasal dari yunani. Menurut bahasa yunani, ontologi berasal dari kata On/Ontos yang berarti “ada” dan logos yang berarti “ilmu” sehingga ontologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang sesuatu yang ada. Menurut istilah ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak (Bakhtiar dalam amrull4h99 Blog, 2009). Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologi akan menjawab pertanyaan-pertanyaan: a) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,
b) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan. Tokoh yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan.

1. Metafisika 

Metafisika dalam bahasa Yunani diambil dari kata μετά (meta) =”setelah atau di balik”, dan φύσικα (phúsika) =”hal-hal di alam”, maka metafisika dapat diartikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta? Pembahasan ontologi terkait dengan pembahasan mengenai metafisika, hal ini karena ontologi membahas hakikat yang “ada”, sedangkan metafisika menjawab pertanyaan apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya, sehingga metafisika dan ontologi merupakan dua hal yang saling terkait. Bidang metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk didalamnya pemikiran ilmiah. Metafisika berusaha menggagas jawaban tentang apakah alam ini. Terdapat beberapa penafsiran yang diberikan manusia mengenai alam ini.
Beberapa tafsiran mengenai metafisika yang dipaparkan oleh jujun (1995), sebagai berikut:
Tafsiran 1: · Animisme merupakan kepercayaan berdasarkan pemikiran supernaturalisme. Supernaturalisme adalah manusia percaya bahwa terdapat roh-roh gaib dalam benda tertentu. · Materialisme (Democritus) merupakan kepercayaan berdasarkan pemikiran naturalisme. Naturalisme berpendapat bahwa gejala-gejala alam yang terjadi disebabkan oleh kekuatan alam itu sendiri, yang dapat dipelajari sehingga dapat kita ketahui kebenarannya.
Tafsiran 2: · Mekanistik berpendapat gejala alam merupakan gejala kimia-fisika semata. · Vitalistik berpendapat hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan proses kimia-fisika.
Tafsiran 3: “proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat yang dipelajarinya”, dari pernyataan tersebut muncul pertanyaan “apakah hakikat kebenaran pikiran tersebut?. · Monistik (Christian Wolff) menyatakan pada dasarnya pikiran dan zat itu sama, hanya berbeda pada gejala yang ditimbulkan yang disebabkan oleh proses yang berlainan, tetapi keduanya mempunyai substansi yang sama. Proses berpikir dianggap sebagai aktivitas elektrokimia dari otak. ·
Dualistik (Thomas Hyde) berpendapat bahwa zat dan pikiran berbeda secara substantif. -Rene Descartes, John Locke, dan George Berkeley menyatakan apa yang ditangkap oleh pikiran merupakan penginderaan dari pengalaman manusia yang bersifat mental. -Descartes berpendapat pikiran itu bersifat nyata sebab dengan berpikir sehingga sesuatu menjadi ada. -Locke berpendapat pikiran diibaratkan organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera. -Berkeley menyatakan sesuatu itu ada disebabkan adanya persepsi.
Pada hakikatnya ilmu tidak bisa dilepaskan dari metafisika, namun seberapa jauh kaitannya, itu semua tergantung kita. Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana adanya. Pencapaian pengetahuan melalui penjelajahan ilmiah akan menimbulkan masalah secara terus menerus. Pada dasarnya tiap ilmuwan boleh mempunyai filsafat individual yang berbeda, boleh menganut paham yang berbeda-beda. Titik temu para ilmuan mengenai hal ini adalah sifat pragmatis dari ilmu.

            

2. Asumsi 

Setiap ilmu selalu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak. Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektual suatu jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat. McMullin (2002) menyatakan hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard presumption) keberadaan suatu obyek sebelum melakukan penelitian.
Dengan demikian, asumsi menjadi masalah yang penting dalam setiap bidang ilmu pengetahuan. Kesalahan menggunakan asumsi akan berakibat kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Asumsi yang benar akan menjembatani tujuan penelitian sampai penarikan kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis. Bahkan asumsi berguna sebagai jembatan untuk melompati suatu bagian jalur penalaran yang sedikit atau bahkan hampa fakta atau data.
Terdapat beberapa jenis asumsi yang dikenal, antara lain:
a) Aksioma: pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat umum, tanpa memerlukan pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan sendiri. Contoh: kebudayaan yang tidak tumbuh dan berkembang adalah kebudayaan yang mati
b) Postulat: pernyataan yang dimintakan persetujuan umum tanpa memerlukan pembuktian, atau suatu fakta yang hendaknya diterima saja sebagaimana adanya. Contoh: manusia yang berkawan adalah manusia sebagai makhluk sosial
c) Premise: pangkal pendapat dalam suatu entimen Semua gejala alam diasumsikan terjadi karena ada hukum yang mengatur kejadian tersebut. Hukum tersebut diartikan sebagai aturan yang diikuti sebagian besar manusia, dimana gejala alam terjadi secara berulang dan dapat diamati serta memberikan hasil yang sama. Apakah gejala dalam alam ini tunduk pada: Pertanyaan penting yang terkait dengan asumsi adalah bagaimana penggunaan asumsi secara tepat?
Untuk menjawab permasalahan ini, perlu tinjauan dari awal bahwa gejala alam tunduk pada tiga karakteristik (Jujun,1995):
a. Determinisme : hukum alam yang bersifat universal Paham ini dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Paham Determinisme bertentangan dengan fatalisme yang berpendapat segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu.
 b. Pilihan bebas: setiap gejala merupakan akibat dari suatu pilihan bebas. Penganut pilihan bebas menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tanpa terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif. Karakteristik ini banyak ditemukan pada bidang ilmu sosial, misalnya, tidak ada tolak ukur yang tepat dalam melambangkan arti kebahagiaan. Masyarakat materialistik menunjukkan semakin banyak harta semakin bahagia, tetapi di belahan dunia lain, kebahagiaan suatu suku primitif bisa jadi diartikan jika mampu melestarikan budaya animismenya. Sebagaimana pula masyarakat Brahmana di India mengartikan bahagia jika mampu membendung hasrat keduniawiannya. Tidak ada ukuran yang pasti dalam pilihan bebas, semua tergantung ruang dan waktu.
c. Probabilistik: Pada sifat probabilistik gejala yang terjadi merupakan suatu peluang. Sesuatu akan berlaku deterministik dengan peluang tertentu. Probabilistik menunjukkan sesuatu memiliki kesempatan untuk memiliki sifat deterministik dengan menolerir sifat pilihan bebas.
Pada ilmu pengetahuan modern, karakteristik probabilitas ini lebih banyak dipergunakan. Dalam ilmu ekonomi misalnya, kebenaran suatu hubungan variabel diukur dengan metode statistik dengan derajat kesalahan ukur sebesar 5%. Pernyataan ini berarti suatu variabel dicoba diukur kondisi deterministiknya hanya sebesar 95%, sisanya adalah kesalahan yang bisa ditoleransi. Jika kebenaran statistiknya kurang dari 95% berarti hubungan variabel tesebut tidak mencapai sifat-sifat deterministik menurut kriteria ilmu ekonomi.
Dalam menentukan suatu asumsi dalam perspektif filsafat, permasalahan utamanya adalah mempertanyakan pada diri sendiri (peneliti) “apakah sebenarnya yang ingin dipelajari dari ilmu?”. Terdapat kecenderungan, sekiranya menyangkut hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka harus bertitik tolak pada paham deterministik. Sekiranya yang dipilih adalah hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu manusia maka akan digunakan asumsi pilihan bebas. Di antara kutub deterministik dan pilihan bebas, penafsiran probabilistik merupakan jalan tengahnya.

3. Peluang 

Semua kejadian merupakan suatu probabilistik. Perlu kita sadari bahwa Ilmu bukanlah pengetahuan yang bersifat mutlak. Ilmu merupakan pengetahuan sebagai dasar pengambilan suatu keputusan, dimana keputusan tersebut harus didasarkan pada penafsiran ilmiah yang bersifat relatif. Probabilitas merupakan salah satu konsep yang sering kita gunakan untuk mendeskripsikan realitas di dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, aplikasinya tidaklah terbatas hanya pada percakapan keseharian tersebut, namun juga mencakup wilayah konversasi yang lebih serius dan refleksif, yaitu sains.
Dengan kata lain, probabilitas acapkali digunakan sebagai perangkat eksplanasi ilmiah. Carl Hempel, salah satu filsuf sains utama pada abad 20, dalam karyanya “Philosophy of Natural Science” mengakui adanya dua jenis wujud hukum yang berperan di dalam eksplanasi ilmiah, yaitu hukum yang universal (laws of universal form) dan hukum yang probabilistik (laws of probabilistic form). Asumsi dalam Ilmu Ilmu merupakan terjemahan dari kata science yang secara etimologis berasal dari kata scire yang berarti to know sedangkan dalam bahasa Arab "ilm" berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Namun para ilmuwan memberi suatu kompromi, artinya ilmu merupakan pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam memecahkan kehidupan praktis sehari-hari dan tidak perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang berfungsi memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dalam kehidupan ini (Masyhudin,dkk., 2010) Menurut Fendy (2010) idealnya ilmu pengetahuan bebas asumsi. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan sebenarnya berasal dari kritik terhadap filsafat idealisme yang selalu terjebak dalam asumsi. Ilmu pengetahuan ingin membuang asumsi-asumsi yang tak berdasar dan menggantikannya dengan sebuah pemikiran yang murni induksi. Berasal dari pengamatan yang dapat dibuktikan secara empiris. Sayangnya hal semacam ini sangat tidak mungkin. Ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi di dalamnya. Dalam sebuah percobaan seorang ilmuan tidak bisa tidak terperangkap dalam sebuah kondisi sosio-historis-kultural. Setiap ilmu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Asumsi ini perlu, Sebab pernyataan asumtif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan kita. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang dikemukakannya. Semua teori mempunyai asumsi- asumsi ini, baik yang dinyatakan secara tersurat maupun yang tercakup secara tersirat (Suriasumantri, 2001:6).
Dengan demikian asumsi dapat dikatakan sebagai latar belakang intelektual suatu jalur pemikiran. Suhartono (dalam Mulyadiniarty, 2009) menyatakan asumsi adalah gagasan primitif, atau gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian. Terdapat asumsi yang berbeda-beda mengenai hukum alam.
Asumsi ini menurut kelompok-kelompok penganut faham berikut ini
1. Deterministik Kelompok penganut paham deterministik menganggap hukum alam ini tunduk kepada determinisme yaitu hukum alam mengikuti pola tertentu. Hukum alam ini diyakini bersifat universal
2. Pilihan Bebas Penganut paham pilihan bebas menganggap hukum yang mengatur itu tanpa sebab karena setiap gejala alam merupakan pilihan bebas dan tidak terikat kepada hukum alam.
3. Probabilistik Penganut paham ini berada di antara deterministik dan pilihan bebas. Yang menyatakan bahwa gejala umum yang universal itu memang ada, namun berupa peluang. Jika kita ingin hukum kejadian itu berlaku bagi seluruh manusia maka kita bertolak dari paham determinisme. Jika kita ingin hukum kejadian yang pas bagi tiap individu kita berpaling pada paham pilihan bebas. Sedangkan jika kita memilih posisi di tengah mengantarkan kita pada paham probabilistik. Jika kita menginginkan hukum yang bersifat mutlak dan universal, kesulitannya adalah dalam kemampuan manusia untuk memenuhi semua kejadian. Misalnya matahari selalu terbit dari timur, beranikah kita menyimpulkan bahwa sampai kapanmu matahari tak akan terbit dari barat?
Menurut Nana (2010), ilmu mengemukakan beberapa asumsi mengenai objek empiris, yaitu:
1. Menganggap objek-objek tertentu mempunyai kesamaan satu sama lain. Cabang ilmu ini mulai berkembang dengan adanya klasifikasi atau taksonomi. Perkembangan kemudian diikuti komparasi atau perbandingan.
2. Menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waku tertentu. Misalnya dipakai untuk mempelajari benda-benda angkasa.
3. Menganggap setiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Bahwa semua kejadian itu terjadi karena ada sebabnya.

Ada suatu pola yang diikutinya. Menurut Suriasumantri (2007:89) dalam mengembangkan asumsi maka harus diperhatikan beberapa hal, yaitu:
1. Asumsi harus relevan dengan bidang ilmu dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan.
2. Asumsi ini harus disimpulkan dari “keadaan sebagaimana adanya” bukan “bagaimana keadaan seharusnya” Seorang ilmuan harus benar- benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya. sebab jika menggunakan asumsi yang berbeda, maka berbeda pula konsep pemikiran yang dipergunakan.
Sering kita temui bahwa asumsi yang melandasi suatu kajian keilmuan tidak bersifat tersurat melainkan tersirat. Asumsi yang tersirat ini kadang- kadang menyesatkan, sebab selalu terdapat kemungkinan bahwa kita berbeda penafsiran tentang sesuatu yang tidak dinyatakan, oleh karena itu maka untuk pengkajian ilmiah yang lugas lebih baik dipergunakan asumsi yang tegas (Suriasumantri, 2007:90)
Batas-Batas Penjelajahan Ilmu Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia(Suriasumantri, 2007:91). Pembatasan ini disebabkan fungsi ilmu itu sendiri adalah sebagai alat bantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ilmu diharapkan dapat membantu umat manusia dalam membangun rumah, jembatan, irigasi, mengeksplorasi kekayaan alam, dan sebagainya, Keterbatasan alat untuk menangkap fenomena alam dan juga sosial itu menjadikan ilmu pengetahuan yang dihasilkan juga terbatas dan bahkan juga relatif sifatnya. Temuan-temuan itu dianggap benar sepanjang masih ditopang oleh data atau informasi serta bisa dijelaskan melalui kekuatan nalarnya (Suprayogo, 2009). Ilmu tidak akan dapat berdiri sendiri, karena keterbatasan dari ruang lingkup kajian ilmu itu sendiri. Oleh karena itu, ilmu tidak bisa terlepas dari aspek moral estetika dan agama, begitu juga dengan aspek-aspek lainnya. Sebagai manusia hendaknya kita menyadari akan keterbatasan kemampuan otak kita dalam memperdalam suatu ilmu. Manusia tidak akan mampu menguasai semua pengetahuan yang ada di alam ini.
Maka untuk mempermudah manusia dalam mengkaji ilmu, ruang-ruang penjelajahan keilmuan kemudian dibagi-bagi menjadi beberapa bagian disiplin keilmuan. Yang mana bagian-bagian ini semakin lama semakin sempit sesuai dengan perkembangan disiplin dari suatu ilmu, namun kajiannya akan semakin dalam. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu berkembang dari 2 cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi rumpun ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (Jannah, 2008). Pada fase permulaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam (natural philosophy) dan ilmu-ilmu sosial (moral philosophy), maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan (Suriasumantri, 2007:92) Anda telah membaca ONTOLOGI (Hakikat apa yang dikaji): Metafisika, Asumsi, Peluang, Asumsi dalam Ilmu, Batas Penjelajahan Ilmu

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel